_*Jaringan Ulama Pesantren:_* _Merajut Ukhuwah Keilmuan, Meneguhkan Khidmah Kebangsaan_.
Oleh: Murodi al-Batawi
Pengantar.
Sejarah peradaban Islam di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari jaringan ulama yang terentang dari Aceh hingga Papua, dari masa lampau hingga kini. Jaringan ini bukan sekadar hubungan genealogis atau silsilah keilmuan, melainkan sebuah sistem sosial-intelektual yang menghubungkan pesantren satu dengan lainnya, menghubungkan ulama dengan muridnya, dan pada akhirnya menghubungkan Islam Nusantara dengan pusat-pusat peradaban Islam dunia. Di tengah tantangan globalisasi dan disrupsi digital, jaringan ulama pesantren menjadi semakin relevan sebagai perekat persaudaraan keilmuan sekaligus fondasi pengabdian kebangsaan.
Seperti dikemukakan Azyumardi Azra dalam karyanya (1994), jaringan ulama Nusantara menjadi penyangga legitimasi Islam di kawasan Asia Tenggara dengan menghubungkan otoritas lokal dengan khazanah global. Ulama-ulama dari berbagai daerah membangun simpul keilmuan dengan Mekkah, Madinah, hingga Kairo, menjadikan Islam Nusantara tumbuh kokoh: _*otentik dalam akar lokalnya, namun universal dalam orientasi ajarannya_*. Dari sinilah lahir tradisi keilmuan yang memadukan kedalaman spiritual dengan kepedulian sosial, yang terus dirawat hingga kini.
_*Jaringan Keilmuan:_* _Dari Haramain hingga Nusantara_.
Pesantren, meskipun biasanya berbasis di perdesaan, memiliki jaringan keilmuan yang lintas mancanegara. Kontak ulama Nusantara dengan Haramain, khususnya sejak abad ke-18, semakin menggiatkan perkembangan pesantren. Para haji Nusantara pada masa transisi abad ke-19 menuju abad ke-20 tidak sekadar beribadah; sebagian dari mereka adalah pembelajar yang telah lama tinggal di Makkah, yang pada saat itu menjadi pusat dunia Islam sekaligus titik perjumpaan pelbagai gagasan.
Salah satu figur sentral dalam jaringan ini adalah _*Syaikhuna Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani 1835–1925),_* ulama terbesar Nusantara yang berbasis di Bangkalan, Madura. Penelitian menunjukkan bahwa Syaikhuna Kholil menjadi simpul utama jaringan keilmuan Islam Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dengan lebih dari 500.000 santri yang pernah menimba ilmu kepadanya. Rantai transmisi keilmuan (sanad) sebagian besar ulama Nusantara pada masa itu dapat ditelusuri kembali kepadanya, menjadikannya ‘mata rantai bersama’ (_*common link_*) dalam transmisi pengetahuan Islam Nusantara. Jaringan ini bukan sekadar fenomena regional Madura-Jawa, melainkan sebuah sistem pengetahuan Islam trans-Nusantara yang terhubung dengan jaringan keilmuan Haramain .
Selain Syaikh Kholil Bangkalan, banyak ulama Indonesia yang memiliki peran serupa dalam transmisi pengetahuan Islam di wilayah Jawa, Syeikh Nawawi al-Bantani, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asyari, juga berperan dalam penyebaran Islam melalui pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, yang menjadi pusat pendidikan Islam klasik. Pengaruhnya yang berkelanjutan terlihat dalam pendirian pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo, Ploso, dan Jampes di Kediri, serta pesantren lainnya di Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan—semuanya memiliki hubungan genealogis dan intelektual yang dapat ditelusuri kembali kepadanya .
_*Simpul-Simpul Modernisasi dalam Jaringan_*
Jaringan ulama tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi saluran pembaruan. Melalui jaringan inilah ide-ide modernisme Islam mulai masuk ke Nusantara. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama Nusantara yang tercatat menjadi imam besar sekaligus khatib di Masjid al-Haram, memperkenalkan ide-ide modernisme Islam secara kritis kepada para pelajar Jawi yang sedang bermukim di Tanah Suci . Murid-muridnya kemudian menjadi tokoh-tokoh besar pembaruan Islam di Indonesia, termasuk KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Wahab Chasbullah (pendiri NU), dan Abdul Halim Majalengka .
Pondok Modern Gontor yang didirikan pada 1926 oleh tiga bersaudara—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi—menjadi contoh bagaimana jaringan keilmuan melahirkan model pesantren yang memadukan unsur modern dengan tradisional. Di Gontor, para santri mempelajari ilmu-ilmu umum sekaligus ilmu-ilmu agama dengan disiplin yang ketat, membentuk mental yang tangguh dan wawasan yang luas. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan keilmuan pesantren tidak statis, melainkan dinamis dan responsif terhadap tuntutan zaman.
_*Merajut Ukhuwah Keilmuan: Tiga Nilai Persaudaraan_*
Jaringan ulama pesantren secara intrinsik mengajarkan tiga nilai persaudaraan (*trilogi ukhuwah*) yang menjadi perekat sosial sekaligus penangkal radikalisme dan terorisme :
1. **Ukhuwah Islamiyah** –
Persaudaraan antarsesama umat Islam, yang terbangun melalui ikatan keilmuan dan spiritual di pesantren.
1. **Ukhuwah Wathoniyah** – Persaudaraan antarsesama anak bangsa, yang mengajarkan cinta tanah air sebagai bagian dari iman (*hubbul wathon minal iman*).
2. **Ukhuwah Basyariyah** –
Persaudaraan antarsesama umat manusia, yang melampaui batas agama dan kebangsaan .
Ketiga nilai ini diajarkan secara luas kepada santri, memungkinkan mereka untuk saling mencintai—jika tidak karena dasar antarsesama umat Islam, maka antarsesama anak bangsa, atau antarsesama umat manusia. Bahkan tradisi dan ajaran yang diberikan di pesantren dan nilai-nilai luhur ini dapat menjadi penangkal bagi gerakan terorisme dan radikalisme di tanah air .
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menekankan pentingnya membangun komunikasi dan silaturahmi lintas ormas keagamaan. Menurutnya, para santri dan kader ulama perlu “aktif berada di tengah-tengah komunitas keumatan,” bertemu dengan NU, Muhammadiyah, dan lainnya, sehingga terbiasa membangun jaringan, silaturahim, dan kerjasama mengatasi masalah. Hal ini sejalan dengan prinsip ukhuwah Islamiyah yang menjadi bekal dasar santri.
_*Meneguhkan Khidmah Kebangsaan_*
Jaringan ulama pesantren memiliki akar yang dalam bagi perjuangan kebangsaan. Kesadaran politik KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng, tumbuh dari dunia pesantren dan dari luar pesantren. Di dalam pesantren, kesadaran akan pentingnya nasionalisme tumbuh karena teman-temannya berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar Jawa. Di luar pesantren, beliau melihat kondisi umat Islam yang memprihatinkan .
Perjuangan KH Hasyim Asy’ari melawan kolonialisme dilakukan melalui jalur pendidikan dan budaya. Beliau memasukkan ilmu-ilmu umum ke dalam pesantren dengan tujuan melawan kebijakan Belanda yang mewajibkan sekolah swasta menggunakan kurikulum barat. Selain itu, dalam pesantren diajarkan nilai-nilai anti-kolonialisme, sehingga pesantren Tebuireng mampu menghasilkan santri-santri yang memiliki jiwa militan sebagai pejuang dan mampu bersaing dengan lulusan sekolah Belanda.
Puncak dari khidmah kebangsaan ini adalah _*fatwa Resolusi Jihad_* yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menjadi cikal bakal peringatan Hari Santri Nasional. Beliau memfardlu ‘ainkan umat Islam yang berada dalam radius 94 KM dari pusat pertempuran untuk mengangkat senjata melawan Belanda dan sekutunya, sementara yang berada di luar radius itu hukumnya fardlu kifayah. Inilah wujud nyata dari sinergi ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah—Islam yang diperkuat semangat nasionalisme, dan nasionalisme yang dijiwai nilai-nilai Islam.
_*Relevansi di Era Kontemporer_*.
Di era disrupsi dan post-truth, jaringan ulama pesantren menghadapi tantangan baru sekaligus peluang besar. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyoroti bahwa Indonesia sedang mengalami “darurat akhlak, darurat narkoba, dan darurat judi online” serta ancaman LGBT dan pornografi . Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan sendiri; diperlukan kerjasama kolaboratif semua pihak, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Pesantren dan alumni pesantren memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi tantangan ini. Dengan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab, serta kepandaian berkolaborasi dan berukhuwah, mereka dapat membangun jaringan yang meluas untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Jaringan internasional pesantren, sebagaimana terbukti dalam Aksi Bela Palestina 5 November 2023 yang dihadiri sekitar 2,3 juta orang dan diprakarsai alumni Gontor, menunjukkan bahwa pesantren mampu menggerakkan massa lintas ormas dan lintas negara dalam waktu singkat.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa para ulama dan santri yang telah berjuang pada masa lalu setara dengan pahlawan nasional. Nilai-nilai luhur yang telah dilakukan harus menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Para santri saat ini, menurutnya, harus bersyukur karena dididik di lingkungan pesantren yang banyak memberikan nilai luhur kehidupan.
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menambahkan bahwa pesantren telah istiqamah menjaga empat hal pokok yang menjadi fondasi peradaban bangsa: _*tradisi keilmuan Islam yang moderat, dakwah rahmatan lil ‘alamin, nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme, serta kemandirian dan keikhlasan_*. Keempat prinsip inilah yang menjaga pesantren tetap relevan dan bertahan di masa-masa yang akan datang.
Penutup
Jaringan ulama pesantren, yang terentang dari masa Wali Songo hingga kini, adalah kekayaan tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Ia bukan sekadar silsilah keilmuan, melainkan sistem sosial yang merajut persaudaraan, meneguhkan pengabdian, dan memastikan keberlanjutan peradaban. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi, jaringan ini menjadi semakin penting—sebagai benteng moral, sebagai laboratorium diplomasi budaya, dan sebagai fondasi bagi Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan beradab.
Seperti diungkapkan KH Said Aqil Siradj, “Islam harus diperkuat dengan semangat nasionalisme dan nasionalisme harus jadi nilai serta spirit bagi Islam”. Sinergi antara ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah inilah yang menjadi ciri khas pesantren dan ulama Nusantara. Dari pesantren-pesantren kecil di pedesaan hingga forum-forum internasional, jaringan ulama terus menunjukkan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang otoritatif dalam ilmu, moderat dalam sikap, dan relevan dalam aksi sosial—sebuah warisan peradaban yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat(odie).
_*Wallahua’lambishawab_*
Pamulang, 20 Juli 2026..
Murodi al-Batawi.


